Belajar Gambut Ke Desa Sungaitohor
- Outreach PM.Haze
- 2 days ago
- 4 min read
"Learning about peat in Sungai Tohor village" Article is from: https://www.kompasiana.com/indayani1986/69e2735634777c48835866c4/belajar-gambut-ke-desa-sungaitohor ini kali pertama saya menginjakkan kaki di desa ini setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Perjalanan ini saya mulai dari Medan menuju pulau Batam dan kemudian menginap satu malam di pulau ini. Pagi-pagi sekali kami bergerak menuju pelabuhan Sekupang, salah satu pelabuhan yang cukup ramai untuk perjalanan ke pulau-pulau lain di Provinsi Kepulauan Riau maupun Menuju Riau daratan di pulau sumatera. Sebelum berangkat saya diperkenalkan Oleh Bang Arie (Founder Yayasan Perri) kepada teman-teman lainnya diantaranya Adam dan Ida dari lembaga Pan Pacific Conservation Foundation dan Yee Ching dari lembaga PM Haze. Kedua lembaga ini berdomisili disana dan bekerja untuk konservasi lingkungan serta pencegahan asap lintas batas. Kunjungan ini merupakan kegiatan monitoring rutin mereka karena memiliki program kerja sama bersama lembaga lokal yaitu Ekonomi Kreatif Andalan (EKA) yang merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat tempatan.
Perjelanan penyebrangan dari Pulau Batam menuju Desa Sungaitohor ditempuh selama 3 jam, kapal yang kami tumpangi beberapa kali berhenti untuk menurunkan ataupun menaikkan penumpang menuju pulau-pulau yang akan disinggahi oleh kapal ini. Tanjung Balai Karimun, Tanjung Samak, dan akhirnya tiba di pelabuhan Sungaitohor. Rasa penasaran saya telah membawa saya kepulau ini (red Pulau Tebingtinggi). Saya tentu sangat buta dengan tanah gambut dan berbagai keunikannya. Perjalanan ini memberikan saya pelajaran berharga tentang hal itu.
Sesampainya di Desa Sungaitohor kami langsung disambut oleh beberapa masyarakat yang telah menunggu kami, Frengki, Kibo, Cik Manan, Wawan mereka adalah orang lokal yang akan memandu saya dan teman-teman yang datang ke desa ini. Kamipun berbincang sejenak di salah satu warung kopi di pelabuhan Desa Sungaitohor. Di pelabuhan ini tertulis jelas '' Tebing Tinggi Timur The World Of Sago Centre'' yang artinya tempat ini merupakan salah satu pusat penghasil tepung sagu dunia. Sambil berbincang ringan kamipun menikmati berbagai minuman yang telah di sajikan.
Bang Arie mengatakan ''sehari sebelum kami sampai, beliau juga membawa beberapa orang dari warga singapura ke tempat ini, mereka juga sangat tertarik pada pulau ini dan berharap kedepan dapat melakukan kerjasama, selain itu kunjungan tersebut juga bagian dari esesmen untuk pelaksanaan program Repeat yang telah dilakukan oleh PM Haze selama beberapa tahun ini. Rencananya Repeat 2026 akan dilakukan di tempat ini selama beberapa hari pada bulan Juni mendatang''. Bang Arie Menjelaskan
Pada dasarnya saya tidak memiliki agenda khusus ke desa ini, kunjungan saya sangatlah sederhana yaitu ingin tahu tentang lahan gambut dan kemudian menulisnya sebagai catatan pembelajaran ataupun berbagi pengalaman yang mungkin dibutuhkan orang sebagai informasi untuk orang lain. Selama beberapa hari di desa ini kami menginap di rumah warga yang telah biasa menjadi Homestay saat berkunjung ke desa ini.
Di hari pertama kami dibawa oleh teman-teman EKA melihat lokasi lahan gambut yang terbakar beberapa minggu lalu, lokasi tidak jauh dari desa sungaitohor dan berada di perbatasan. Ketua EKA (Ferenki) menjelaskan '' kawasan ini diketahui terbakar pada tengah hari tanggal 12 maret 2026 lalu, masyarakat berbondong-bondong membantu untuk pemadamannya, masyarakat peduli api dan masyarakat terdekat dengan lokasi ini secara bergantian menjaga api agar tidak meluas. Api benar-benar baru dapat dipadamkan secara menyeluruh setelah 5 hari. Kebakaran di gambut yang terbuka biasanya akan melalui 3 tahap, tahap pertama api akan membakar bagian kering di bawah semak dan mengeringkan tumbuhan yang diatasnya, tahap kedua api membakar semua tumbuhan yang telah dikeringkan oleh panas api dan terakhir api akan membakar tanah gambut dibagian bawah dengan bahan bakar seperti kayu atau getah damar yang ada di bawah tanah gambut tersebut'' terang beliau.
Di hari ke dua kami mengunjungi lokasi pembibitan pohon dan lokasi penanaman. Berbagai bibit pohon dikembangkan oleh masyarakat untuk mendukung upaya restorasi lahan gambut di desa ini. Selain itu sepanjang jalan menuju lokasi penanam juga terdapat banyak sekat kanal yang telah dibangun oleh masyarakat dengan dukungan dari PM Haze dan mitra mereka. Sekat kanal ini dibangun dengan tujuan sebagai bendungan untuk menaikkan tinggi permukaan air gambut, yang tujuannya adalah melakukan pembasahan pada area lahan gambut. Karena dengan melakukan pembasahan, resiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan menjadi lebih kecil dan cadangan karbon dapat terus dipertahankan. Pembasahan gambut juga memberikan dampak positif bagi pertumbuhan tanaman Rumbia yang merupakan tanaman penghasil tepung sagu.
Saya juga mendapat kesempatan melakukan penanaman beberapa pohon di tempat ini. Saya menanam pohon jenis pionir yang tahan terhadap banjir, cepat berbuah dan disukai oleh berbagai burung liar sebagai pemencar biji, tanaman tersebut masyarakat lokal menyebutnya dengan nama pohon Tenggek Burung. Selain baik untuk kawasan ini masyarakat juga memanfaatkan pucuk muda tanaman tersebut sebagai lalapan atau ulam (red : sayur yang dimakan saat segar tanapa harus dimasak). Kami semua berkesempatan melakukan penanaman pohon di tempat ini. Lahan yang kami tanam merupakan kubah gambut dengan kedalaman antara 4-5 meter dan pernah terbakar pada tahun 2014 silam. Berbagai informasi yang saya tulis ini saya peroleh dari keterangan teman-teman EKA dan teman-teman dari Yayasan Perri, PM Haze dan PPCF.
Hari ke tiga kami bertemu dengan beberapa masyarakat yang telah melakukan inisiatif pertanian agroforestri di kebun-kebun milik mereka. Kebun-kebun di tanami dengan berbagai tanaman seperti pisang, kelapa, Kakao, pinang, Durian dan tanaman lainnya. Tujuan sistem pertanian ini terus dikembangkan adalah masyarakat memperoleh banyak manfaat ekonomi dari beberapa komoditas yang dapat mereka panen secara bergantian, membantu menyehatkan lahan, dan mengurangi dampak pemanasan global. Tentu saja usaha seperti ini layak untuk terus didorong dan di tingkatkan.
Selama beberapa hari di desa ini saya juga merasa sangat kagum, betapa tidak, setiap hari kami menikmati berbagai menu makanan berbahan tepung sagu dengan variasi masakan yang beragam. Tentu saja ini merupakan khasanah yang harus terus di jaga dan di kembangkan. Selama kunjungan singkat tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa tanah gambut telah memberikan penghidupan bagi masyarakat dari mulai makanan, obat-obatan, dan penghasilan ekonomi bagi masyarakat disini. perputaran dari sektor sagu saja tumbus hingga 2,7 milliar di desa ini. Betapa luar biasanya lahan gambut jika dijaga dan dilindungi, jika gambut terbakar ekonomi masyarakat di tempat ini dapat lumpuh, kebakaran lahan gambut akan berdampak pada kesehatan masyarakat, mata pencaharian, dan biaya rehabilitasi yang juga tidak sedikit. Saya fikir harusnya pemerintah mulai memikirkan ulang terhadap kebijakan-kebijakan mereka dalam mengelola lahan-lahan gambut yang ada di Indonesia. (Kontributor : Keykey)
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Belajar Gambut Ke Desa Sungaitohor", Klik untuk baca:
Kreator: Field Story
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com



Comments